Wednesday, November 21, 2007

Sebuah Cerita


Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya. Pak tua bijak hanya mendengarkan dengan seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya “, ujar pak tua.
“Pahit, pahit sekali,” jawab pemuda itu sambil meludah ke samping.
Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingandan akhirnya sampai ketepi telaga yg tenang itu. Sesampai disana, Paktua itu kembali menaburkan serbuk pahit ketelaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.
“Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.”
Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya, “Bagaimana rasanya ?”
“Segar,” sahut si pemuda.
“Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?” tanya pak tua.
“Tidak,” sahut pemuda itu.

Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata: “Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yg kamu dapat lakukan, lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”
Pak tua itu lalu kembali menasehatkan : “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yg mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian.”


"Hendaknya kita menyedari bahawa musibah yang menimpa kita bukanlah untuk memusnahkan kita, sesungguhnya kehadiran musibah tersebut hanyalah untuk menguji sampai dimana kesabaran kita" (Ibnu Qayyim)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.”
Kekurangan harta, secara hakikat, juga berarti kehilangan keyakinan akan kemampuan diri, kehilangan atribut palsu yang biasa kita jadikan landasan rasa percaya diri palsu, kehilangan thaghut yang kita jadikan gantungan. Kehilangan status, kehilangan pangkat dan kekayaan semu.
Kekurangan jiwa, kehilangan kekasih, sahabat, teman dan keluarga. Kehilangan bahan bakar, ’semangat’ palsu yang biasa kita jadikan andalan dan sandaran: karena Dia-lah satu-satunya yang berhak dijadikan tempat bergantung dan berharap. Semua ini akan diganti-Nya dengan —yang lebih baik—: yang menjadikan kita lebih mendekat kepada-Nya.

“Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Dan Allah mengetahui apa yang ada dalam dadamu. Q. S. [3] : 154


Monday, November 19, 2007

Rezeki Itu Tak Pernah Salah Alamat


Jika kita termasuk yang sering bercukur di tukang cukur bermerk "Pangkas Rambut", cobalah bertanya kepada si akang pemangkas rambut tersebut perihal pendapatannya, maka kita akan takjub bagaimana dia bisa memperoleh 100 hingga 200 ribu perhari .

Kemudian tanyakan juga kepada para pedagang toko kecil yang banyak berdiri di sudut jalan atau ujung gang, biasanya mereka menjual rokok, penganan kecil seperti biskuit dan permen dan juga kebutuhan rumah tangga seperti sabun dan pasta gigi. Hampir semua pemilik warung kecil itu selalu ada saja yang membeli barang dangangan mereka.

Semua pun tahu, bahwa nyaris semua penjahit yang datang dari padang kemudian mencari nafkah di Kalimantan Barat atau di wilayah lain, tetapi kenyataannya mereka tetap hidup dan bisa sejahtera. Seperti halnya tempat-tempat penambal ban maupun bengkel motor di pinggir jalan itu sering kita panggil "Ucok" yang menandakan mereka datang dari Sumatra Utara, tetapi tetap bisa mendapat uang di rantau orang .

Tentu sangat menarik memperhatikan fenomena ini, karena masing-masing mereka sudah ada 'jatah' rezeki dari Allah Swt. Seperti halnya semut yang kecil itu atau nyamuk. Makhluk Allah ini mempunyai rezeki masing-masing. Dan Allah Maha Adil membagi-bagi rezeki kepada setiap makhluk di muka bumi ini.

Lebih jelasnya, setiap orang itu akan mendapatkan rezeki tergantung dari keterampilan yang dimilikinya. Orang yang memiliki skill memotong rambut, maka ia akan membuka usaha cukur rambut. Orang yang mendapatkan pelayanan dari keahlian si tukang cukur, akan membayar sesuai jerih payah dan keahlian tersebut. Sama halnya dengan kita, keterampilan apa yang bisa kita "jual" agar pihak lain mau mengeluarkan sejumlah uang sesuai keahlian yang kita miliki itu.

Intinya, jangan pernah berharap rezeki akan datang begitu saja tanpa ada satu usaha untuk menunjukkan satu bentuk keterampilan yang kita miliki. Lebih dari satu keterampilan yang kita miliki, Insya Allah akan lebih pula yang bisa didapat. Tidak punya keterampilan satu pun, siap-siap selalu gigit jari karena kesempatan selalu terlewat begitu saja tanpa bisa kita raih.

Misalnya begini, pernah ada seorang kawan yang bertanya perihal lowongan di tempat saya bekerja. Kemudian saya tanya, "Mengoperasikan mesin jahit bisa? Bisa memotong kain dengan mesin tidak ?" Untuk dua pertanyaan tersebut, jawabannya sama : Tidak. Ooh, ya kalau begitu saya ajukan satu pertanyaan lagi, "Bisa mengemudi mobil?" Berhubung saat itu di kantor memang sedang membutuhkan seseorang dengan keahlian tersebut. Nyatanya, ia juga menjawab "Tidak" meski dibubuhi kalimat pendukung, "tapi saya bisa belajar kok"

Agak sulit bagi siapa pun untuk membantu mencarikan pekerjaan buat seseorang yang tidak memiliki satu pun keterampilan. Bahkan seorang Office Boy (OB) sekalipun memiliki keterampilan khusus yang menjadi prasyarat ia bisa diterima bekerja sebagai office boy.

Rezeki tidak pernah salah alamat, itu pasti. Kalau mengibaratkannya dengan seorang tukang pos pengantar surat, ia tidak akan pernah kesulitan mengantar surat jika tertera alamat yang jelas dan lengkap. Ditambah lagi, si pemilik rumah pun semestinya menuliskan alamat rumahnya dengan jelas, seperti nomor rumah, RT/RW dan lain sebagainya, agar pak pos tak kesulitan mencocokkan alamat tertera di surat dengan alamat kita. Jangan salahkan jika tukang pos kebingungan mencari alamat kita, karena boleh jadi kita memang tak memasang alamat jelas di depan rumah.

Jadi, tunjukkan kemampuan, keterampilan, dan keahlian yang kita miliki. Agar orang lain bisa melihatnya dengan jelas dan memberikan kesempatan terbaik buat kita. Karena rezeki memang tidak pernah salah alamat, hanya kadang kita sendiri yang tak menunjukkan alamat jelas, sehingga seringkali rezeki berlalu begitu saja. *


dikutip dari : http://www.dudung.net

Apakah TUHAN Menciptakan Kejahatan ?


Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada?
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang
mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan
menciptakan segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya". "Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti
Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa
berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor
tersebut.
Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi
dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya
bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak
pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada.
Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas.
Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"
Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga
tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya.
Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak.
Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya
menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang
gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap.
Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya
di ruangan tersebut.
Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah
kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak
perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara
tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda
salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan.
Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan.
Tuhan tidak menciptakan kejahatan.
Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia.
Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul
dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

Dan Allah sudah menjanjikan di Al Qur'an utk segala kejahatan baik itu baru di dalam pikiran..

" Rencana jahat apabila terdapat pada diri sseorang maka akam kembali akibatnya kepadanya. Rencana jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri ." (Faathir:34)



Saturday, November 17, 2007

Refleksi Diri.....

Sebuah prosa dari seorang teman...

" Dan akhirnya kujalani hidup ini...
bahkan dengan segala kesalahan-kesalahan yang telah kulakukan
dan yakin ku kan lakukan lainnya,
ku kan jalani semua kesalahan-kesalahan itu
karena pada akhirnya kesalahan-kesalahan itulah
yang mengajarkanku tentang kehidupan yang membuat hidupku hidup..."


Hidup ini akan lebih indah di jalani jika kita mau Refleksi diri...
Daan Mogot, 17 Nov 2007 jam 11:32....

Thursday, November 15, 2007

Akhirnya manusia

Hari ini boleh jadi Anda sedang menginginkan mobil dan rumah. Orang lain ada yang menginginkan lulus kuliah dan menikah. Yang lain lagi sedang berharap usaha yang dirintisnya akan mendapat sambutan meriah dari konsumen. Kemudian 5 tahun berikutnya mungkin semua itu ada yang terwujud, juga ada yang belum terwujud. Pencapaian hidup manusia di dunia ini bermilyar ragamnya, namun akhirnya manusia hanya ada dua: akhir yang baik (husnul khotimah) dan akhir yang buruk (su’ul khotimah).

Dalam kisah-kisah yang sebagian disampaikan dalam hadits Nabi (sayangnya saya kesulitan melacak sumbernya), ada kisah tentang seorang pelacur yang diampuni dosanya olah Allah karena berusaha keras mengambil air dari sumur menggunakan sepatunya hanya untuk memberi minum seekor anjing yang kehausan. Sebaliknya ada kisah seorang wanita yang mendapat siksa neraka karena mengurung kucingnya hingga mati kelaparan. Ada kisah seorang pembunuh yang mati di tengah perjalanan untuk bertaubat sehingga Allah ampuni dosanya. Sebaliknya ada kisah seorang rajin ibadah yang berakhir mati disalib karena pembunuhan setelah dia dijerumuskan setan melalui mabuk minuman keras. Orang itu memang rajin ibadah, sayangnya ibadahnya tanpa ilmu sehingga mudah ditipu.

“Jangan sepelekan amalan-amalan kecil,” demikian kata ustadz Quraish Shihab dalam sebuah tayangan program Ramadhan, sambil mengingatkan kisah pelacur yang menolong anjing kehausan. Boleh jadi amalan kecil itulah yang menjadi jalan datangnya ampunan Allah.
Salah satu rahasia terbesar bagi seorang manusia adalah waktu kematian. Bisa jadi kita mati nanti sore, bisa jadi besok, bisa jadi lusa. Kita tidak tahu. Kematian itu sebuah peluang statistik. Ketika peluang tersebut berinteraksi dengan tepat terhadap kondisi yang dipilih atau dihadapi manusia, dia bisa terjadi. Peluang Anda mati saat membaca tulisan ini secara normal adalah sangat kecil. Namun kalau Anda membaca sambil minum segelas obat nyamuk Baygon, tampaknya peluang matinya berubah drastis menjadi hampir pasti akan mati.


Cara paling cerdas untuk mencapai akhir yang baik adalah dengan selalu berbuat baik. Ini ilmu statistik yang sederhana. Kalau lebih banyak baik daripada buruk, maka peluang akhir yang baik tentu lebih tinggi. Mungkinkah kita banyak buruknya namun berakhir baik? Mungkin saja, tapi peluangnya kecil. Silahkah banyak maksiat, berzina, korupsi, lalu berharap mati dalam keadaan baik. Yakinkah bahwa saat hampir mati uang korupsinya sudah lunas dikembalikan, sudah taubat dari berzina, dan sudah meninggalkan maksiat? Pasti berat untuk drastis berubah dalam sekejab. Jadi, agar peluangnya tinggi harus dibiasakan dan terus dilakukan perbuatan yang baik-baik.

Suatu ketika saya meminjam telpon istri. Saat ponsel dinyalakan, muncul tulisan di layar : upayakan husnul khotimah. Wah, bagus nih, pikirku. Maka tulisan itupun kucontek untuk ‘greeting words’ layar ponselku.

Ya Allah, jadikanlah kami kembali dalam husnul khotimah. Amin....


Dikutip dari http://sepia.blogsome.com

Tuesday, November 13, 2007

Bila Aku Jatuh Cinta


Allahu Rabbi aku minta izin,
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya engkau.

Allahu Rabbi aku punya pinta,
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cintaMu
Dengan kasihMu yang tak terhingga
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi izinkanlah,
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasihMu
Dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berikanlah kami kesempatan
Untuk lebih mendekatkan cinta-Mu

Allahu Rabbi pintaku yang terakhir
Adalah seandainya aku jatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajahMu dariku
Anugerahkanlah aku akan cinta-Mu
Cinta yang tak akan pernah pupus oleh waktu

Amiin

Puisi dari seorang teman ......













CINTA KASIH SEORANG IBU...

Jangan terpaku ratapi makamku...
Aku tak tidur disitu...
Kini ku hidup dalam angin seribu,
Ku hidup dalam sinar mentari pagi,
Dalam guyuran lembut gerimis hujan...

Aku hidup saat kau bangun di hening pagi,
Dalam hembusan angin segar,
Bersama burung aku terbang,
Pandangi aku dalam kedip cahaya bintang...

Jangan terpaku di makamku...
Dan mengais ...
Aku tidak tidur disitu,
Aku tak mati.....


I Love you Mom.....
And I Miss You everyday in the rest of my life...

Thursday, August 17, 2006

Seberapa besarkah Tuhan?

Setiap anak kecil tampaknya pernah punya pertanyaan yang sama : seperti apakah wujud Tuhan? Seberapa besarkah Tuhan? Saya sendiri waktu kecil membayangkan Tuhan seperti sesorang yang berjubah dengan tudung menutup kepala yang membuat wajahnya tak kelihatan. Setelah dipikir-pikir ternyata ini akibat nonton film di TV jaman dulu dimana tokoh pendeta maupun malaikat (bahkan kadang juga iblis, pokoknya semua yang spiritual) digambarkan seperti itu. Istri saya sama saja, dia membayangkan Tuhan seperti seorang manusia besar sekali memakai songkok (kopiah) dan sedang jongkok mengamati bumi. Hehe, lucu betul…
Agus Mustofa memberikan gambaran lebih ‘realistis’ wujud Tuhan.Kurang lebih begini (dengan bahasa saya) : kita sudah tahu berapa besar bumi ini (bahkan sudah ada fotonya dari luar angkasa). Kita baru mampu memperkirakan bentuk galaksi Bima Sakti dimana tata surya kita berada. Galaksi Bima Sakti ini hanya satu dari milyaran atau mungkin trilyunan galaksi di alam semesta ini. Besarnya alam semesta kira-kira seluas ilustrasi ini. Bila alam semesta kita anggap sebesar bola bumi, maka tata surya kita (dari matahari sampai Pluto) cuma sebesar satu sel bakteri!
Anggap bentuk alam semesta itu bulat, dan kita bisa gambarkan tepi-tepinya. Pertanyaan : ada apakah di luar bola alam semesta ini?
Nah, Tuhan lebih besar dari alam semesta itu.


dikutip dari http://sepia.blogsome.com

Tuesday, February 21, 2006

How To Behave And Why -- Chapter WISE


We
get along with people and we make good friends
when we have polite manners like :


Shaking hands when we meet.
* *
Smiling and saying “good morning” or “good afternoon” or else.
* *
Saying “goodbye” when we leave and thanking people when
they have been nice to us.
* *
Saying ”Please” when we want something and “Excuse me” or
“I beg your pardon,” when we bump into something, or belch or yawn or cough or sneeze.

( And when we yawn or cough we cover our mouths. )
* *
Waiting for other people to finish talking before we start.
* *
Letting ladies and girls be “first”.
* *
Helping very old and very young people as much as we can, and being quiet and gentle
when we are them.
* *
Eating quietly without sprawling and grabbing or quarreling at the table. Asking to be excused when we have finished eating and are ready to leave.
* *
Being quiet and orderly when we go to places where there are a lot of other people – like libraries, movies or museums, theatres or classrooms, or in trains, street cars or busses.
* *
By never acting as though we were the only people in the world who counted, and never acting fresh and showing off to make people believe that we think we are better than they are.


“ I
can’t always be right
no matter who I am”
is a good thing for all
of us to remember.


Others people have ideas and thoughts
ways to do things
ways to work
ways to play
ways they think of GOD
and their country
and their race.
Their way can be just as right
as your way.
Remember that, and be glad you
have a chance to choose
the best of all ways.

Sailing
Together in a boat is a lot like learning to live with other people and be happy.


We learn to obey and
after a while we
learn to command
and help to make
the world a
better place
for all of us.

End
of the book is
what this is,
and if
YOU
Learned
to be

HONEST * FAIR * STRONG * WISE

Then you have learned

HOW TO BEHAVE AND WHY

Saturday, February 11, 2006

How To Behave and Why - Chapter STRONG


YOU HAVE TO BE STRONG

Some
People think that being strong
is just a matter of having muscle like a gorilla.
But they are wrong.


That alone never made anybody happy.
Real strength comes from having a clean,

healthy mind and a clean, healthy body.

Think

it out for yourself.
All the power of sixty gorillas won’t do you any good

if you use it stupidly,
and if you don’t stay healthy
you might as well be a run down.

Any brave man or woman
can tell you that having a clean healthy mind comes

from taking the time to think what is right
and then doing it no matter how scared you are or
when it would be easier to do wrong or even

if somebody else tries to talk you into it.

Regular
habits are the answer to the question :
How can we grow from a weak baby to a strong

and healthy man or woman ?
Eating the right food when we should.

Keeping clean
Playing and exercising
Sitting and standing right and
Getting the right amount of sleep and rest are
HOW TO GET GROW WELL AND STRONG


Of
Course you can argue


With people who know better than you, but it’s stupid.
Doctors and scientists study and learn what is the best way to keep ourselves healthy.

Our fathers and mothers learn from them and tell us.

They know a lot more than we do,

and if we are bright, we do what they tell us to.

Now
Is the best time
to start doing what you are told to do

for you own good health.

You can ask your parents to tell you
WHY
They want you to obey,
BUT


Don’t Nag
and
Whine
and
Grumble
and
Cry

every time you just don’t want to do what is right.

Grown ups
aren’t some kinds
of weird monsters


that have fun
making us do things
we don’t want to do.
They just know a
Whole lot more than we do
Because they have been here longer.


Listen
to what they tell you
and you will be surprised how right
they usually are.
We all are different in many ways,


But
we are all alike in many ways too.
If we are
HONEST
and
FAIR
and
STRONG
We won’t find it hard to be wise.


Thursday, January 26, 2006

How To Behave and Why - Chapter FAIR

Friendly
People find it easy to be FAIR.


Being friendly and being fair both come from believing
that other people have just as much right
to be alive and happy as we have.

The man or woman or boy or girl
who goes around gloomy,with a sour face
and is afraid that everybody else is going to make him
or her unhappy has a very hard time making friends.

There are a lot of nice people everywhere and the sooner we meet each other in a friendly way and get to know each other, the better the world will be for all of us.


Anywhere
You go with a smile and wish to like people,

you will find someone who will be glad to see you.

From Africa to the Artic Circle this is so.
People everywhere are like yourself in many ways
and most of them want to share happiness
and the good things of life with others
if you will do the same.

So..
Get up in the morning where you are

and go to school or play or work or parties
or new places glad to meet new people
and make old friend of them.

In
You own home is a good
Place to begin every dayBy being fair.


Our mother and fathers and sisters
and brothers make wonderful friends,
if we treat them fairly and
do our share to make home a happy place for everyone there.
Helping to keep it neat and clean


Sharing the work that has to be done.

Being quiet when others need peace.

And giving others just as much right as
you have to enjoy themselves with or without you—

There are all ways of being Fair

and ways to make people glad you live with them
from the time you wake in the morning
until you pleasantly, cheerfully go to bed.

Remember
the secret of fairness is sharing.


Selfish people who won’t share with others
find themselves left alone and unhappy
no matter ehat they own that could be fun.
Look out for the person who pretends

to be your friend but doesn’t want you to like anyone else.
That isn’t a friend –
it’s a selfish person who is trying to own you
and hasn’t learned to share to be happy.

Poor sports who can’t lose games without squawking
or won’t take turns are not fair

And
Neither is the lazy lump
who never share the work that
has to be done by someone.
We know now what it means to be FAIR.


and we learn all through life
that the friendly person is a happy person most of the time.

Thursday, January 05, 2006

How To Behave and Why -- Chapter Honest


Honest
People tell the truth
Other people know that
when they say something is so,
they can believe it
Now that is very handy,
because if you honest and promise to do something,
others will trust you.

They will share things with you tell you secrets,
lend you money,
and help you do many of
the things you want to do ---

BECAUSE

They know that what you promise
And what you say
is true.
They can count on it.

Only
A dope will tell a lie.

One of the quickest ways to lose your friends
and to make people dislike you is to lie
Some people think they can be smart
and fool others when they tell a lie –
but sooner or later the truth usually is found out
and the liar is sorry
because he knows
he won’t be trusted or believed the next time.

This one says his baby sister broke that mirror.
Would you trust him and want him for a friend ?

NobodyKnows

what to do with a person who doesn’t tell the truth
How can you believe a word they say ?
Even if they do tell the truth part of the time,
how can you know which times they mean it
and which times they don’t ?

No – we can’t say that just one little lie doesn’t count


It counts every time and
people can’t really know us
and like us unless they can believe what we say

Every
Time we tell a lie
we mix ourselves up more

After a while almost no one will believe us –
but worse that that ----
We can’t believe ourselves or anyone else,
because we don’t really know
what the truth is any more that a turtle
And that is a stupid way to live
As anyone call tell you

Stealing
Is something honest people don’t do

Taking things that
don’t belong to you is a sure way
to get into trouble and be unhappy

Good people can’t let bad people
take things from others secretly or by force
If they did the world would be a miserable place for everyone.
Nothing we own would be safe.
Grownups who steal are put in jail in almost every country
and that is one way a person loses
all his friends for a long long time

There

Is another way to make people dislike you
that is half like lying and half like stealing ---
and it’s just as bad as either of them.
That is
CHEATING
#$@%%@…!?>&@!**

In playing games
Working at school
Trading things or buying or selling the person
who cheats will make enemies of those he cheats
and other people won’t like or trust him.
Nothing we get by cheating is worth what we lose with our friends.

Friday, December 30, 2005

How To Behave and Why -- The Begining

How old we are isn’t what counts.
The two biggest question to ask ourselves in life, at any age,are :
Are most of the people I know glad that I am here ?
Am I glad that I am here, myself ?
Anyone who can honestly answer
“ YES “
to those questions most of the time has learned to
B E H A V E
In this world and to live a
Happy life !!!!

It doesn’t matter whether you are a Chniness grandfather,
an Eskimo mother or an indonesian boy or girl going to school.
You still have to get along well with other people and have most of them like you,
if you want to be happy.
Ever since the days when men stopped living in caves,
the good and decent people of the world have found out
that there are certain ways we all have to behave
if we want to live together pleasantly.
The good ways, or the good rules for behaving,
have lasted a long time ---- so they must have something
No matter where you are or who you are,
there are four main things that you have to do
if you want to make good friends and keep them.
You have to be
HONEST
You have to be
FAIR
You have to be
STRONG
And
You have to be
WISE
And there is no good in trying to fool yourself.
All that isn’t so easy.
dikutip dari buku How to behave and why karya Munro leaf