Wednesday, February 06, 2008

Dan duka pun mengalir seperti air

Kini kau jadi seorang lelaki yang berjalan sendirian di bawah gerimis hujan.
Betapa pun pedih duka kaurasakan, kau tetap bertahan.
Hitam rambutmu basah tergerai di dahi, kini tiada kauhiraukan."Kekasih, mengapa cinta, mengapa penuh dengan kebencian?" lirihmu,
sambil memandang butiran hujan dan awan hitam yang bergerak perlahan.

Namun kini matamu tak lagi basah oleh airmata,
maka tak ada lagi duka merayapi sepanjang garis senyummu yang sederhana,
maka kebencian berlalu bersama angin yang berhembus perlahan sehabis hujan.

Mungkin kini kau berharap cinta sejatilah yang akan menuntunmu menjadi manusia, menghapus cemas pada sukma, membasuh debu-debu hatimu dengan cahaya.Namun, siapakah kekasih yang selalu kautunggu itu?

(buat adik-ku yg sedang belajar untuk KUAT)

Monday, February 04, 2008

Lelah



Sudah lelah kaki berjalan

Sudah lelah darah ini mengalir deras

Sudah lelah nafas ini berhembus panjang

Sudah lelah di dalam angan menyimpan hasrat

Hujan pun akhirnya berjatuhan

Membawa semua kelelahan

Mengurai semua gundukan kelelahan

Menghapus semua jejak kesalahan

Apakah setelah hujan akan ada pelangi..?

Yang akan membasuh lelah ini

Yang akan menyegarkan asa ini

Jalani hari ini, esok dan nanti

Biarkan hujan dan pelangi

Memberikan arti dari hidup ini

Dan biarkan lelah datang dan menepi

Lelah akan hilang di sela hujan dan pelangi



kppti, 04.02.2008, 06:58

Sunday, February 03, 2008

FRIENDSHIP

Buddies, don't we all have them
Pals, so they're not so concerned about you all the time
Friends, could you use one
Could someone find one in you
Sure we all could use a friend
hopefully not only in times of need
Real good close friends....are there any you ask
Very rare dare in say...but always there
I have in you such a friend
Rain or shine
Sure glad you're mine

Thamrin,
UN Building

Thamrin....

Aku... Ingin jadi Buih Pertama Matahari yang meresap butir-butir air,
dipucuk langit disudut ruang-ruang,
yang mengangkat butir-butir air tuk disemai,
dipersembahkan bagi dunia, jadi hujan, jadi embun, jadi penyejuk dilipatan udara.
Semoga....

(Thamrin, saat adik-ku memulai genjatan senjata)

Just go on

Memang pernah terbersit menyudahi sebuah cerita yg kurasa masih niskala
Memang pernah terkias memutuskan harapan yang rasanya tak kunjung datang
Sekali kurentang nafas, tak terasa maknanya
Karena hembusan itu justru membikin yang kukerjakan tak berarti apa-apa
Tapi baru tadi malam serentang harap kembali menyembul pelan
Dan sekalimat bisikan mengiang ...
" Jalani saja hari ini, esok dan nanti ....."
Berkah kan melimpah tak kan berkurang dari Illahi ...

mba e ku

Tuesday, January 29, 2008

happy ... or Un happy















Kurasa aku kembali hidup bersama bintang,
mereka begitu damai dan tenang,
Aku terpukau memandang mereka lama dan lamaa sekali...
Mereka tidak dalam kegelapan dan meratapi dosa mereka,
Mereka tidak membuatku muak dengan ocehan
mengenai ketaatan terhadap Tuhan,
Tak ada yang mengeluh, tak satupun yang didera
keinginan memiliki sesuatu,
Tak satupun menyembah yang lainnya,
Juga tidak menyembah sesamanya yang hidup beribu tahun
yang lalu...
Tak satupun patut di hormati atau tidak merasa bahagia
di pelataran bumi


-walt whitman-

Thursday, January 10, 2008

Shalat khusyu’ itu mudah dan saaangat nikmat

Shalat shubuhku kali ini ternyata berjalan 1 jam tanpa merasa lelah! Dan sepanjang shalat aku menangis. Saya yakin, yakin sekali, Anda juga akan merasakannya. Seperti juga telah dirasakan banyak orang yang mengikuti petunjuk sederhana ini.

Kemarin saya ke Gramedia untuk mencari buku-buku kata-kata mutiara dan buku Marwah Daud yang berjudul HMMD. Buku-buku kata mutiara sudah didapatkan, buku HMMD nya tidak ada. Sambil melihat-lihat buku best seller, mata saya menangkap judul yang tengah saya cari. Pelatihan Shalat Khusyu’. Buku relatif tipis dengan harga lumayan mahal, 50 ribu.

Gambarnya orang sedang sholat di tepi danau, dengan nuansa sampul putih dan biru air. Ada cetakan emas tulisan “Best Seller” di sampulnya. Penulisnya Abu Sangkan, nama yang rasanya pernah dengar, entah dimana. Mungkin karena kata Sangkan Paraning Dumadi (Yang Dianggap -Sumber- Datangnya Kejadian), adalah sebutan bagi Allah dalam masyarakat Jawa. Ternyata nama Abu Sangkan karena dia punya anak dinamai Sangkan paraning Wisesa (sumber datangnya kebijaksanaan -mungkin begitu).

Buku itu saya baca sehabis Isya’ hingga larut malam. Selesai jam 11 malam. kalimat pertama yang mengesankan saya adalah komentar Marwah Daud, yang meyakini bahwa karunia terbesar dalam hidup ini bukanlah kakayaan dan jabatan, tapi adalah diberi karunia shalat yang khusyu’. Dia yakini ini berdasar surat Qur’an Surat Al Mukminun 1-2, “Telah beruntunglah orang-orang mukmin, yaitu mereka yang khusyu’ dalam sholatnya.”
Silahkan baca sendiri isi dan tipsnya, tulisan ini bukan tentang itu, tapi tentang pengalaman saya ketika shalat subuh tadi pagi.

Setiap Ramadhan saya merasa ketinggalan kereta. Demikian pula dengan kereta I’tikaf 10 hari terakhir. Lagi-lagi luput, tiba-tiba sudah malam ke 22. Maka saya niatkan untuk tahajud dengan menerapkan metode sederhana sholat khusyu’.

Gagal. Saya bangun dengan malas sehingga sahur selesai saat masuk imsak. Ketika ambil wudlu, ternyata sudah masuk subuh. Akhirnya saya mencoba menerapkannya pada sholat sunnah sebelum saya ke masjid (baru hari ini pingin ke masjid, biasanya malas). Niat saya shalat sunnah di rumah, lalu segera ke masjid.

Gagal juga! Shalat sunnah saya terlalu lama sehingga (sambil masih shalat) terdengar masjid sudah memulai shubuhnya. Ya sudah saya lanjutkan terus sunnah saya. Pelan-pelan. Sambil sangat rileks, seperti tips dalam buku itu. Subhanallah! Shalat sunnah ini begitu enaknya, hingga lama seperti seakan shalat wajib. Shalatnya terganggu ketika ponsel berbunyi karena ada SMS masuk. Bunyi terus-menerus mengingatkan saya bahwa ada message yang belum dibaca. Duh, kesal rasanya hati harus mempercepat shalat hanya untuk mematikan handphone.

Lalu saya mulai shalat shubuh. Dengan sedikit kurang yakin bahwa akan mendapat kenikmatan seperti shalat sunnah tadi. Saya menyantaikan diri. Rileks. Satu prinsip utama dalam kiat buku itu adalah, jangan ‘mencari’ khusyu’, cukup siapkan diri untuk ‘menerima’ khusyu’ itu, karena khusyu’ bukan kita ciptakan tapi ‘diberi langsung’ oleh Allah sebagai hadiah nikmat kita menemuiNya. Tips yang sangat sederhana, tapi ini bagi saya adalah lompatan paradigma!

Maka saya bersikap rileks. Kepala hingga pinggang dikendorkan, jatuh laksana kain basah yang dipegang ujungnya dari atas. Berat badan mengumpul di kaki yang kemudian serasa keluar akarnya, mengakar ke bumi. Berdiri santai, senyaman kita berdiri. Abu Sangkan menggambarkan laksana pohon cemara, meluruh atasnya, kokoh akarnya sehingga luwes tertiup angin namun tak roboh.

Bersikap rileks menyiapkan diri kita untuk siap ‘menerima’ karunia khusyu’, karena khusyu’ itu diberi bukan kita ciptakan.

Lalu saya mulai bertakbir, Allahu Akbar. Dan selanjutnya saya baca dengan pelan-pelan. Karena bacaan shubuh harus diucapkan agak keras, maka saya rendahkan suara saya. Pelan sesuai tips buku itu, rendah suara karena -jujur- saya agak malu kalau suara saya terdengar istri saya yang sedang tiduran. Rasanya seperti baru belajar sholat lagi. Saya berdiri lama, banyak berhenti kalau memang sedang tidak ingin baca. Saya meresapi kesendirian dan berusaha menangkap kehadiran Tuhan yang sesungguhnya amat dekat dengan kita, namun kita tumpul untuk merasakannya. Saya sedang menemuiNya sekarang. Saya, ruh saya tepatnya. Badan fisik ini hanyalah alat yang mengantar ruh ini berjumpa kembali dengan yang dicintainya, ialah Allah yang meniupkan ruh ini dahulu ke dalam badan fisik.

Break sebentar. Pernah sholat di belakang imam yang ‘ngebut’ sholatnya? Saya pernah, dan jujur saya kesal. Baru mau selesai Al Fatihah, eh dia sudah ruku’. Saya mau ruku’ eh dia sudah berdiri I’tidal. Dan seterusnya. Saya kesal karena irama kecepatan sholat kami berbeda. Dia - menurut saya- terlalu cepat.

Ternyata demikian halnya dengan sholat kita sendiri. Ketika kita sholat, selain badan fisik kita ini sholat pula ruh kita. Ruh inilah yang benar-benar ingin sholat -kembali menemui Tuhannya- sementara badan fisik ini sarana kita mengantarnya dengan gerakan dan bacaan. Ruh kita ini sesungguhnya ingin sholat dengan tenang, santai, tuma’ninah. Sayangnya badan kita ‘ngebut’, jadilah ruh kita itu jengkel sejengkel-jengkelnya karena selalu ketinggalan gerakan badan. Maka tips sederhana dari buku itu adalah jika ruku’, tunggu, tunggu hingga ruh ikut mantap dalam ruku’ itu. Saat I’tidal, tunggu, tunggu hingga ruh mu ikut mantap I’tidal. Demikian pula saat sujud, duduk antara dua sujud, juga duduk tasyahud. Tunggu, tunggu hingg ruh mu ikut sujud, ikut duduk, ikut tasyahud.

Berikan kesempatan ruh kita -sebut saja “aku” yang sejati- untuk mengambil sikap sholatnya. Dia agak lamban, namun sholat ini utamanya untuk ‘aku” kita itu, bukan untuk badan fisik kita.
Maka saya shalat dengan sangat pelan. Santai. kalau sedang malas baca, saya diam saja. menikmati kepasrahan saya hadir menemui Tuhan. Saya baca bacaan sholat dengan pelan. Saya mencoba berdialog, dan itulah memang esensi sholat.

Esensi sholat adalah doa, berdialog dengan Allah secara langsung.
Kita sebenarnya diberi kesempatan untuk mengadu. Kita adukan semua persoalan kita kepada Allah. Kita adukan semua kebingungan kita, pekerjaan, rizki, kesehatan, cinta, dan semua apapun. Kita mengadu, dan kita pasrah menunggu dijawab. Dan pasti Allah menjawabnya langsung. Ruh bisa merasakannya, namun kalau dia dipaksa tertinggal-tinggal oleh gerakan badan, maka dia tidak sempat menikmati pertemuan dengan Allah itu.

Saat ruku’ saya ruku’ lama, sambil menarik regang kaki dan punggung saya. Nikmati saja seperti menikmati peregangan bila senam. Saat sujud, saya tumpukan kepala sebagai tumpuan utama. Nikmat rasanya ‘terpijat’ dahi ini oleh gerak sujud. Saat ruh telah ikut sujud, saya baca dengan penghayatan, “Subhana robbiyal a’laa wa bi hamdih” (Maha Suci Engkau yang Maha Tinggi dan Maha Terpuji). Rasanya nikmat sekali sujud lama.

Lalu, lalu saya duduk setelah sujud. Saya baca sepotong-sepotong bacaannya, sesuai tips buku itu. Robbighfirlii (Ya Tuhan ampunilah aku). Lalu saya diam. Tiba-tiba keluar sendiri air mata, saya menangis karena menyadari betapa dalam makna kalimat pengaduan ini. Kita minta secara langsung untuk dimaafkan . Ruh kita meminta secara langsung, dan Allah menjawabnya. Saya menangis. Ruh saya, kita yang sejati, menangis. War hamnii (dan sayangilah aku), air mata itupun tumpah. Wajburnii. Diam. War fa’nii. Diam. Saya tak terlalu yakin arti yang saya baca. Tapi saya makin menangis. Warzuqnii (beri rizki padaku -Ya Allah), air mata saya tumpah, betul-betul saya tiba-tiba sadar bahwa selama ini saya mengejar-ngejar rizki tapi tidak serius mengakui itu dariNya, lalu saat ini saya sedang memintanya langsung! Wahdinii (tunjukilah aku -karena aku sedang bingung dan tak tahu). Diam, saya menangis. Wa’aafinii (dan sehatkan aku -aku yang sedang sakit pilek). Wa’fuannii (dan maafkan aku- yang banyak dosa ini). Saya duduk lama sekali. Sambil mengusap air mata yang bercucuran.

Shalat shubuh dua rakaat ini panjang. Ditutup dengan tasyahud yang menggetarkan. Apalagi ketika membaca “Assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillahisshoolihiin” (keselamatan mohon dikaruniakan kepada kami -para ruh yang sedang menemuiMu- dan atas ruh-ruh ahli-ahli ibadah yang sholih). Saya menangis terus-menerus, sehingga berulang kali mengusap lendir yang keluar dari hidung.

Setelah shalat, sesuai dengan tips buku itu, saya mulai berdoa dengan meratap. Saya ucapkan hanya, “Ya Allah… Ya Allah… Ya Allah…”, sambil mengangkat tangan setinggi wajah seperti seorang pengemis yang meminta-minta. Berkali-kali, hingga hati saya siap berdoa. Saya ingat buku Al Ghazali dulu saya baca, sekitar 15 tahun lalu, yang berjudul Rahasia Shalat. Salah satu poin yang saya ingat adalah, kalau kita ingin dekat Allah maka kita harus sungguh-sungguh memanggilnya laksana seorang anak kecil yang ketakutan karena ada ular atau bahya, lalu memanggil-manggil ayahnya, “Ayah… Ayah… Ayah…”, maka ayahnya pasti datang dengan seruan itu dan melindungi anak tersebut. Demikianlah kalau kita ingin bebas dari maksiat, kata Al Ghazali, maka kita harus panggil dengan betul-betul ketakutan akan maksiat tersebut, kita panggil pelindung kita dengan sungguh-sungguh seakan anak kecil memanggil-manggil ayahnya, maka akan dilindungi kita dari maksiat tersebut.

Lalu saya berdoa, dengan masih terus menangis. Saya merasa mengadu dan masih mengadu di depan Tuhan secara langsung. Saya mengikhlaskan apapun jawaban dari doa saya tersebut.
Saya bahagia bisa merasakan sholat seperti itu. Tidak akan tergantikan dengan uang dan kemewahan dunia lainnya.

Sungguh pengalaman yang menakjubkan. Cerita berhalaman-halaman tidak akan mampu melukiskan hal itu. Silahkan coba sendiri, rasakan sendiri, menagislah mengadu kepada Allah sendiri. Saya cuman mau berbagi cerita, dengan kekahwatiran saya kehilangan rasa yang sama di sholat berikutnya (insya Allah mudah-mudahan tidak akan hilang).

Problem yang sekarang muncul, tampaknya akan sulit lagi saya menikmati sholat kilat, di belakang imam yang irama sholatnya lebih cepat dari saya. Apakah saya perlu sholat sendiri dulu beberapa waktu ini?

Buku itu berjudul Pelatihan Shalat Khusyu’ : Shalat sebagai meditasi tertinggi dalam Islam. Abu Sangkan, Penerbit Baitul Ihsan (masjidnya Bank Indonesia), cetakan kelima Mei 2005 (cetakan pertamanya Agustus 2004). Websitenya : www.dzikrullah.com

dikutip dari http://khairulu.blogsome.com/

“Apa sih indikator kita ini di jalur benar menuju sukses di akhirat?”

Pertanyaan yang sulit. Sebab tidak ada orang di jaman ini yang berhak memberi status, apakah kita sedang menuju sukses akhirat, atau menjauhinya. Dulu di jaman Rasulullah Muhammad, beliau beberapa kali (sebagai bentuk pengajaran) memberi status ke beberapa sahabat, si anu masuk surga, si fulan masuk neraka. Ilmu itu ada di beliau. Lalu di jaman sekarang ini kita harus berpegang pada indikator apa?

Indikator ini semestinya adalah sebuah indikator praktis yang bisa kita pantau sendiri, persis seperti speedometer di sepeda motor atau mobil kita. Jadi kita tidak perlu orang lain yang memberi analisisnya buat kita. Percayalah, orang lain itupun sebaiknya memantau indikatornya sendiri daripada sibuk memantau indikator kita. Dia punya problem yang sama dengan kita.

Saya yakin indikator ini penting. Saya sering merasa bahwa pada waktu tertentu, misalnya saat bulan puasa ini, sepertinya banyak orang ‘mendadak jadi shaleh’. Sehingga kadang dalam hati ini juga agak malu dengan diri sendiri. Yang tadinya jarang ke mesjid, tiba-tiba semangat untuk tarawih. yang tadinya jarang mendengarkan pengajian, tiba-tiba hobi dengan ceramah dan lagu ruhani. Kemudian lebaran tiba, sibuk silaturahmi (sambil pamer ponsel), dan hilang kembali keshalehan mendadak tersebut. Nah loh.

Berarti pencapaian perilaku saat puasa itu sangat sesaat, bukan indikator yang praktis. Itu ibarat orang dapat proyek besar, lalu dapat uang banyak. Sekejap dia menjadi orang kaya yang sukses finansial. Lalu sibuk belanja. Lalu tak lama kemudian kembali menjadi orang yang punya hutang. Kekayaannya yang sekejap hanyalah indikator semu. Semestinya kita berpegang pada ‘wealth ratio’ itu, yang tak begitu kelihatan namun jauh lebih esensial.

Seseorang boleh tampak sederhana, baju biasa saja, rumah biasa saja, kendaraan hanya sepeda motor. Tapi orang ini merdeka karena pasif income nya melebihi pengeluarannya setiap bulan. Orang ini kaya. Sebaliknya seseorang punya mobil mewah, rumah keren, dengan gaya hidup yang mewah. Tapi pasif income nya nol besar. Jelas yang ini cuman ‘kelihatan’ kaya, aslinya sih miskin.

Demikian juga dengan amalan itu, jangan-jangan keshalehan mendadak di bulan puasa itu akhirnya hanya indikator yang melenakan. Merasa sudah akan sukses di akhirat, eh ternyata masih termasuk yang dimurkai Tuhan. Demikian pula dengan yang bolak-balik umroh maupun haji berkali-kali, jangan-jangan ya ditolak semua ibadahnya itu.

Jadi apa ya, indikator yang tepat bahwa kita ini (kira-kira) menuju kesuksesan di akhirat?
Sejauh ini, walau belum intensif dicari, jawabannya pasti ada di Qur’an dan hadits. Mari kita cari yang praktis, yang setiap saat dengan mudah kita bisa mengukurnya tanpa harus minta tolong orang lain memberi evaluasi buat kita.

Dulu sekali waktu membaca buku Al Ghazali tentang rahasia shalat, ada satu hal yang melekat dalam benak ini. Kata Al Ghazali, kalau kita ingin bangun malam shalat tahajud, maka syaratnya adalah hari sebelumnya tidak melakukan maksiat. Kalau kita bersih, maka bangun menjadi mudah. Kalau ada maksiat, maka bangun menjadi sulit. Pengalaman sih, Al Ghazali benar.

Rasanya memang ada hubungan sebab akibat yang kuat antara kualitas amal sebelumnya dengan kemudahan amal berikutnya. Berarti kalau makin lama makin nyaman beramal shaleh (shalat, sedekah, mengajar ilmu, bekerja dengan tulus, tidak ngerumpiin orang lain, dll) berarti kita di jalur yang benar. Tren nya bergerak naik, mestinya. Mungkinkah ini indikator yang tepat? Cara memberi skornya bagaimana ya?

Atau mungkin indikator yang lebih tepat adalah jumlah shalat khusyu yang kita rasakan? Katanya, khusyu itu karunia, sesuatu yang diberikan kepada kita yang ingin bersungguh-sungguh shalat. Mendapat khusyu itu ciri kita di jalur yang benar. Jadi kalau dalam satu hari kita sholat 5 kali dan tidak khusyu semua, berarti skor ’speedometer’ kita nol (sepertinya seringkali skor kita yang ini nih!). Kalau satu sholat saja kita rasakan khusyu maka skor kita 20 persen, kalau semuanya khusyu berarti sukses skor 100 persen. Skor berguna, seperti halnya angka-angka di speedometer. Walaupun mungkin skor kita naik turun, ya nggak papa, daripada tanpa skor sama sekali.

Sejauh ini kira-kira di sekitar itulah diduga letak indikator yang praktis untuk kita pantau sehari-hari. Semestinya indikatornya kombinasi, satu untuk hubungan kita langsung dengan Tuhan dan satu lagi untuk ibadah sosial, supaya menggambarkan amalan yang lebih luas. Misalnya, jumlah shalat khusyu dan persentase sedekah dari penghasilan.

Dua indikator ini cukup praktis karena mudah memantaunya dan dapat dibuat menjadi skor. Tentu saja ini buat diri sendiri, jadi terserah masing-masing untuk membuat indikator sendiri. Yang jelas, tanpa indikator akan berakibat hidup ini menjadi sulit diarahkan, lalu bisa terjadi kita terkejut dan menyesal di kemudian hari, ketika telah tiba masa kita nanti untuk berpulang.

Indikator, kawan, indikator… mari kita cari untuk menyelamatkan diri kita masing-masing dalam menempuh ujian singkat yang hanya 0,15 detik kosmik di dunia ini.


dikutip dari :http://sepia.blogsome.com/

Kiat sukses dunia akhirat dari Nabi

Malu rasanya sering mengutip kiat sukses dari orang barat. Maka yang ini kiat dari Rasulullah. Dijamin lebih mustajab. Saya kutip dari situs Renungan Islam.

HADIS MUTHAHHARAH

Dari Sayyidina Khalid bin Al-Walid Radiallahu’anhu telah berkata : Telah datang seorang arab desa kepada Rasulullah S.A.W yang mana dia menyatakan tujuannya : Wahai Rasulullah! sesungguhnya kedatanganku ini adalah untuk bertanya kepada engkau mengenai apa yang akan menyempurnakan diriku di dunia dan akhirat. Maka baginda S.A.W telah berkata kepadanya Tanyalah apa yang engkau kehendaki :

Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang alim
Baginda S.A.W menjawab : Takutlah kepada Allah maka engkau akan jadi orang yang alim

Dia berkata : Aku mau menjadi orang paling kaya
Baginda S.A.W menjawab : Jadilah orang yang yakin pada diri engkau maka engkau akan jadi orang paling kaya

Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang adil
Baginda S.A.W menjawab : Kasihanilah manusia yang lain sebagaimana engkau kasih pada diri sendiri maka jadilah engkau seadil-adil manusia

Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang paling baik
Baginda S.A.W menjawab: Jadilah orang yang berguna kepada masyarakat maka engkau akan jadi sebaik-baik manusia

Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang istimewa di sisi Allah
Baginda S.A.W menjawab : Banyakkan zikrullah nescaya engkau akan jadi orang istimewa di sisi Allah

Dia berkata : Aku mau disempurnakan imanku
Baginda S.A.W menjawab : Perelokkan akhlakmu niscaya imanmu akan sempurna

Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan orang yang muhsinin (baik)
Baginda S.A.W menjawab : Beribadatlah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya dan jika engkau tidak merasa begitu sekurangnya engkau yakin Dia tetap melihat engkau maka dengan cara ini engkau akan termasuk golongan muhsinin

Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan mereka yang taat
Baginda S.A.W menjawab : Tunaikan segala kewajipan yang difardhukan maka engkau akan termasuk dalam golongan mereka yang taat

Dia berkata : Aku mau berjumpa Allah dalan keadaan bersih daripada dosa
Baginda S.A.W menjawab : Bersihkan dirimu daripada najis dosa nescaya engkau akan menemui Allah dalam keadaan suci daripada dosa

Dia berkata : Aku mau dihimpun pada hari qiamat di bawah cahaya
Baginda S.A.W menjawab : Jangan menzalimi seseorang maka engkau akan dihitung pada hari qiamat di bawah cahaya

Dia berkata : Aku mau dikasihi oleh Allah pada hari qiamat
Baginda S.A.W menjawab : Kasihanilah dirimu dan kasihanilah orang lain nescaya Allah akan mengasihanimu pada hari qiamat

Dia berkata : Aku mau dihapuskan segala dosaku
Baginda S.A.W menjawab : Banyakkan beristighfar nescaya akan dihapuskan( kurangkan ) segala dosamu

Dia berkata : Aku mau menjadi semulia-mulia manusia
Baginda S.A.W menjawab : Jangan mengesyaki sesuatu perkara pada orang lain nescaya engkau akan jadi semulia-mulia manusia

Dia berkata : Aku mau menjadi segagah-gagah manusia
Baginda S.A.W menjawab : Sentiasa menyerah diri (tawakkal) kepada Allah nescaya engkau akan jadi segagah-gagah manusia

Dia berkata : Aku mau dimurahkan rezeki oleh Allah
Baginda S.A.W menjawab : Sentiasa berada dalam keadaan bersih ( dari hadas ) nescaya Allah akan memurahkan rezeki kepadamu

Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan mereka yang dikasihi oleh Allah dan rasulNya
Baginda S.A.W menjawab : Cintailah segala apa yang disukai oleh Allah dan rasulNya maka engkau termasuk dalam golongan yang dicintai oleh Mereka

Dia berkata : Aku mau diselamatkan dari kemurkaan Allah pada hari qiamat
Baginda S.A.W menjawab : Jangan marah kepada orang lain nescaya engkau akan terselamat daripada kemurkaan Allah dan rasulNya

Dia berkata : Aku mau diterima segala permohonanku
Baginda S.A.W menjawab : Jauhilah makanan haram nescaya segala permohonanmu akan diterimaNya

Dia berkata : Aku mau agar Allah menutupkan segala keaibanku pada hari qiamat
Baginda S.A.W menjawab : Tutuplah keburukan orang lain nescaya Allah akan menutup keaibanmu pada hari qiamat

Dia berkata : Siapa yang terselamat daripada dosa?
Baginda S.A.W menjawab : Orang yang sentiasa mengalir air mata penyesalan,mereka yang tunduk pada kehendakNya dan mereka yang ditimpa kesakitan

Dia berkata : Apakah sebesar-besar kebaikan di sisi Allah?
Baginda S.A.W menjawab : Elok budi pekerti, rendah diri dan sabar dengan ujian ( bala )

Dia berkata : Apakah sebesar-besar kejahatan di sisi Allah?
Baginda S.A.W menjawab : Buruk akhlak dan sedikit ketaatan

Dia berkata : Apakah yang meredakan kemurkaan Allah di dunia dan akhirat ?
Baginda S.A.W menjawab : Sedekah dalam keadaan sembunyi ( tidak diketahui ) dan menghubungkan kasih sayang

Dia berkata: Apakah yang akan memadamkan api neraka pada hari qiamat?
Baginda S.A.W menjawab : sabar di dunia dengan bala dan musibah

komentar : tinggal pilih kiat mana yang sedang Anda perlukan saat ini.

dikutip dari : http://sepia.blogsome.com/

Puisi di Awal Tahun



Ya ALLAH,
KAU ciptakan waktu dalam dua sisi,
Siang & malam...

keduanya tetap dalam ritme Nafas kehidupan.
Bagi-MU tidak ada Tahun Baru ...
Yang ada adalah
Hari esok dan esok,
yang tiap ritmenya
Mengartikan berkurangnya usia kita


Selamat Tahun Baru Islam 1429 H

Wednesday, November 21, 2007

Sebuah Cerita


Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya. Pak tua bijak hanya mendengarkan dengan seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya “, ujar pak tua.
“Pahit, pahit sekali,” jawab pemuda itu sambil meludah ke samping.
Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingandan akhirnya sampai ketepi telaga yg tenang itu. Sesampai disana, Paktua itu kembali menaburkan serbuk pahit ketelaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.
“Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.”
Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya, “Bagaimana rasanya ?”
“Segar,” sahut si pemuda.
“Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?” tanya pak tua.
“Tidak,” sahut pemuda itu.

Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata: “Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yg kamu dapat lakukan, lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”
Pak tua itu lalu kembali menasehatkan : “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yg mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian.”


"Hendaknya kita menyedari bahawa musibah yang menimpa kita bukanlah untuk memusnahkan kita, sesungguhnya kehadiran musibah tersebut hanyalah untuk menguji sampai dimana kesabaran kita" (Ibnu Qayyim)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.”
Kekurangan harta, secara hakikat, juga berarti kehilangan keyakinan akan kemampuan diri, kehilangan atribut palsu yang biasa kita jadikan landasan rasa percaya diri palsu, kehilangan thaghut yang kita jadikan gantungan. Kehilangan status, kehilangan pangkat dan kekayaan semu.
Kekurangan jiwa, kehilangan kekasih, sahabat, teman dan keluarga. Kehilangan bahan bakar, ’semangat’ palsu yang biasa kita jadikan andalan dan sandaran: karena Dia-lah satu-satunya yang berhak dijadikan tempat bergantung dan berharap. Semua ini akan diganti-Nya dengan —yang lebih baik—: yang menjadikan kita lebih mendekat kepada-Nya.

“Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Dan Allah mengetahui apa yang ada dalam dadamu. Q. S. [3] : 154


Monday, November 19, 2007

Rezeki Itu Tak Pernah Salah Alamat


Jika kita termasuk yang sering bercukur di tukang cukur bermerk "Pangkas Rambut", cobalah bertanya kepada si akang pemangkas rambut tersebut perihal pendapatannya, maka kita akan takjub bagaimana dia bisa memperoleh 100 hingga 200 ribu perhari .

Kemudian tanyakan juga kepada para pedagang toko kecil yang banyak berdiri di sudut jalan atau ujung gang, biasanya mereka menjual rokok, penganan kecil seperti biskuit dan permen dan juga kebutuhan rumah tangga seperti sabun dan pasta gigi. Hampir semua pemilik warung kecil itu selalu ada saja yang membeli barang dangangan mereka.

Semua pun tahu, bahwa nyaris semua penjahit yang datang dari padang kemudian mencari nafkah di Kalimantan Barat atau di wilayah lain, tetapi kenyataannya mereka tetap hidup dan bisa sejahtera. Seperti halnya tempat-tempat penambal ban maupun bengkel motor di pinggir jalan itu sering kita panggil "Ucok" yang menandakan mereka datang dari Sumatra Utara, tetapi tetap bisa mendapat uang di rantau orang .

Tentu sangat menarik memperhatikan fenomena ini, karena masing-masing mereka sudah ada 'jatah' rezeki dari Allah Swt. Seperti halnya semut yang kecil itu atau nyamuk. Makhluk Allah ini mempunyai rezeki masing-masing. Dan Allah Maha Adil membagi-bagi rezeki kepada setiap makhluk di muka bumi ini.

Lebih jelasnya, setiap orang itu akan mendapatkan rezeki tergantung dari keterampilan yang dimilikinya. Orang yang memiliki skill memotong rambut, maka ia akan membuka usaha cukur rambut. Orang yang mendapatkan pelayanan dari keahlian si tukang cukur, akan membayar sesuai jerih payah dan keahlian tersebut. Sama halnya dengan kita, keterampilan apa yang bisa kita "jual" agar pihak lain mau mengeluarkan sejumlah uang sesuai keahlian yang kita miliki itu.

Intinya, jangan pernah berharap rezeki akan datang begitu saja tanpa ada satu usaha untuk menunjukkan satu bentuk keterampilan yang kita miliki. Lebih dari satu keterampilan yang kita miliki, Insya Allah akan lebih pula yang bisa didapat. Tidak punya keterampilan satu pun, siap-siap selalu gigit jari karena kesempatan selalu terlewat begitu saja tanpa bisa kita raih.

Misalnya begini, pernah ada seorang kawan yang bertanya perihal lowongan di tempat saya bekerja. Kemudian saya tanya, "Mengoperasikan mesin jahit bisa? Bisa memotong kain dengan mesin tidak ?" Untuk dua pertanyaan tersebut, jawabannya sama : Tidak. Ooh, ya kalau begitu saya ajukan satu pertanyaan lagi, "Bisa mengemudi mobil?" Berhubung saat itu di kantor memang sedang membutuhkan seseorang dengan keahlian tersebut. Nyatanya, ia juga menjawab "Tidak" meski dibubuhi kalimat pendukung, "tapi saya bisa belajar kok"

Agak sulit bagi siapa pun untuk membantu mencarikan pekerjaan buat seseorang yang tidak memiliki satu pun keterampilan. Bahkan seorang Office Boy (OB) sekalipun memiliki keterampilan khusus yang menjadi prasyarat ia bisa diterima bekerja sebagai office boy.

Rezeki tidak pernah salah alamat, itu pasti. Kalau mengibaratkannya dengan seorang tukang pos pengantar surat, ia tidak akan pernah kesulitan mengantar surat jika tertera alamat yang jelas dan lengkap. Ditambah lagi, si pemilik rumah pun semestinya menuliskan alamat rumahnya dengan jelas, seperti nomor rumah, RT/RW dan lain sebagainya, agar pak pos tak kesulitan mencocokkan alamat tertera di surat dengan alamat kita. Jangan salahkan jika tukang pos kebingungan mencari alamat kita, karena boleh jadi kita memang tak memasang alamat jelas di depan rumah.

Jadi, tunjukkan kemampuan, keterampilan, dan keahlian yang kita miliki. Agar orang lain bisa melihatnya dengan jelas dan memberikan kesempatan terbaik buat kita. Karena rezeki memang tidak pernah salah alamat, hanya kadang kita sendiri yang tak menunjukkan alamat jelas, sehingga seringkali rezeki berlalu begitu saja. *


dikutip dari : http://www.dudung.net

Apakah TUHAN Menciptakan Kejahatan ?


Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada?
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang
mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan
menciptakan segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya". "Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti
Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa
berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor
tersebut.
Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi
dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya
bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak
pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada.
Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas.
Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"
Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga
tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya.
Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak.
Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya
menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang
gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap.
Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya
di ruangan tersebut.
Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah
kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak
perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara
tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda
salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan.
Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan.
Tuhan tidak menciptakan kejahatan.
Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia.
Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul
dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

Dan Allah sudah menjanjikan di Al Qur'an utk segala kejahatan baik itu baru di dalam pikiran..

" Rencana jahat apabila terdapat pada diri sseorang maka akam kembali akibatnya kepadanya. Rencana jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri ." (Faathir:34)



Saturday, November 17, 2007

Refleksi Diri.....

Sebuah prosa dari seorang teman...

" Dan akhirnya kujalani hidup ini...
bahkan dengan segala kesalahan-kesalahan yang telah kulakukan
dan yakin ku kan lakukan lainnya,
ku kan jalani semua kesalahan-kesalahan itu
karena pada akhirnya kesalahan-kesalahan itulah
yang mengajarkanku tentang kehidupan yang membuat hidupku hidup..."


Hidup ini akan lebih indah di jalani jika kita mau Refleksi diri...
Daan Mogot, 17 Nov 2007 jam 11:32....

Thursday, November 15, 2007

Akhirnya manusia

Hari ini boleh jadi Anda sedang menginginkan mobil dan rumah. Orang lain ada yang menginginkan lulus kuliah dan menikah. Yang lain lagi sedang berharap usaha yang dirintisnya akan mendapat sambutan meriah dari konsumen. Kemudian 5 tahun berikutnya mungkin semua itu ada yang terwujud, juga ada yang belum terwujud. Pencapaian hidup manusia di dunia ini bermilyar ragamnya, namun akhirnya manusia hanya ada dua: akhir yang baik (husnul khotimah) dan akhir yang buruk (su’ul khotimah).

Dalam kisah-kisah yang sebagian disampaikan dalam hadits Nabi (sayangnya saya kesulitan melacak sumbernya), ada kisah tentang seorang pelacur yang diampuni dosanya olah Allah karena berusaha keras mengambil air dari sumur menggunakan sepatunya hanya untuk memberi minum seekor anjing yang kehausan. Sebaliknya ada kisah seorang wanita yang mendapat siksa neraka karena mengurung kucingnya hingga mati kelaparan. Ada kisah seorang pembunuh yang mati di tengah perjalanan untuk bertaubat sehingga Allah ampuni dosanya. Sebaliknya ada kisah seorang rajin ibadah yang berakhir mati disalib karena pembunuhan setelah dia dijerumuskan setan melalui mabuk minuman keras. Orang itu memang rajin ibadah, sayangnya ibadahnya tanpa ilmu sehingga mudah ditipu.

“Jangan sepelekan amalan-amalan kecil,” demikian kata ustadz Quraish Shihab dalam sebuah tayangan program Ramadhan, sambil mengingatkan kisah pelacur yang menolong anjing kehausan. Boleh jadi amalan kecil itulah yang menjadi jalan datangnya ampunan Allah.
Salah satu rahasia terbesar bagi seorang manusia adalah waktu kematian. Bisa jadi kita mati nanti sore, bisa jadi besok, bisa jadi lusa. Kita tidak tahu. Kematian itu sebuah peluang statistik. Ketika peluang tersebut berinteraksi dengan tepat terhadap kondisi yang dipilih atau dihadapi manusia, dia bisa terjadi. Peluang Anda mati saat membaca tulisan ini secara normal adalah sangat kecil. Namun kalau Anda membaca sambil minum segelas obat nyamuk Baygon, tampaknya peluang matinya berubah drastis menjadi hampir pasti akan mati.


Cara paling cerdas untuk mencapai akhir yang baik adalah dengan selalu berbuat baik. Ini ilmu statistik yang sederhana. Kalau lebih banyak baik daripada buruk, maka peluang akhir yang baik tentu lebih tinggi. Mungkinkah kita banyak buruknya namun berakhir baik? Mungkin saja, tapi peluangnya kecil. Silahkah banyak maksiat, berzina, korupsi, lalu berharap mati dalam keadaan baik. Yakinkah bahwa saat hampir mati uang korupsinya sudah lunas dikembalikan, sudah taubat dari berzina, dan sudah meninggalkan maksiat? Pasti berat untuk drastis berubah dalam sekejab. Jadi, agar peluangnya tinggi harus dibiasakan dan terus dilakukan perbuatan yang baik-baik.

Suatu ketika saya meminjam telpon istri. Saat ponsel dinyalakan, muncul tulisan di layar : upayakan husnul khotimah. Wah, bagus nih, pikirku. Maka tulisan itupun kucontek untuk ‘greeting words’ layar ponselku.

Ya Allah, jadikanlah kami kembali dalam husnul khotimah. Amin....


Dikutip dari http://sepia.blogsome.com

Tuesday, November 13, 2007

Bila Aku Jatuh Cinta


Allahu Rabbi aku minta izin,
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya engkau.

Allahu Rabbi aku punya pinta,
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cintaMu
Dengan kasihMu yang tak terhingga
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi izinkanlah,
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasihMu
Dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berikanlah kami kesempatan
Untuk lebih mendekatkan cinta-Mu

Allahu Rabbi pintaku yang terakhir
Adalah seandainya aku jatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajahMu dariku
Anugerahkanlah aku akan cinta-Mu
Cinta yang tak akan pernah pupus oleh waktu

Amiin

Puisi dari seorang teman ......













CINTA KASIH SEORANG IBU...

Jangan terpaku ratapi makamku...
Aku tak tidur disitu...
Kini ku hidup dalam angin seribu,
Ku hidup dalam sinar mentari pagi,
Dalam guyuran lembut gerimis hujan...

Aku hidup saat kau bangun di hening pagi,
Dalam hembusan angin segar,
Bersama burung aku terbang,
Pandangi aku dalam kedip cahaya bintang...

Jangan terpaku di makamku...
Dan mengais ...
Aku tidak tidur disitu,
Aku tak mati.....


I Love you Mom.....
And I Miss You everyday in the rest of my life...

Thursday, August 17, 2006

Seberapa besarkah Tuhan?

Setiap anak kecil tampaknya pernah punya pertanyaan yang sama : seperti apakah wujud Tuhan? Seberapa besarkah Tuhan? Saya sendiri waktu kecil membayangkan Tuhan seperti sesorang yang berjubah dengan tudung menutup kepala yang membuat wajahnya tak kelihatan. Setelah dipikir-pikir ternyata ini akibat nonton film di TV jaman dulu dimana tokoh pendeta maupun malaikat (bahkan kadang juga iblis, pokoknya semua yang spiritual) digambarkan seperti itu. Istri saya sama saja, dia membayangkan Tuhan seperti seorang manusia besar sekali memakai songkok (kopiah) dan sedang jongkok mengamati bumi. Hehe, lucu betul…
Agus Mustofa memberikan gambaran lebih ‘realistis’ wujud Tuhan.Kurang lebih begini (dengan bahasa saya) : kita sudah tahu berapa besar bumi ini (bahkan sudah ada fotonya dari luar angkasa). Kita baru mampu memperkirakan bentuk galaksi Bima Sakti dimana tata surya kita berada. Galaksi Bima Sakti ini hanya satu dari milyaran atau mungkin trilyunan galaksi di alam semesta ini. Besarnya alam semesta kira-kira seluas ilustrasi ini. Bila alam semesta kita anggap sebesar bola bumi, maka tata surya kita (dari matahari sampai Pluto) cuma sebesar satu sel bakteri!
Anggap bentuk alam semesta itu bulat, dan kita bisa gambarkan tepi-tepinya. Pertanyaan : ada apakah di luar bola alam semesta ini?
Nah, Tuhan lebih besar dari alam semesta itu.


dikutip dari http://sepia.blogsome.com

Tuesday, February 21, 2006

How To Behave And Why -- Chapter WISE


We
get along with people and we make good friends
when we have polite manners like :


Shaking hands when we meet.
* *
Smiling and saying “good morning” or “good afternoon” or else.
* *
Saying “goodbye” when we leave and thanking people when
they have been nice to us.
* *
Saying ”Please” when we want something and “Excuse me” or
“I beg your pardon,” when we bump into something, or belch or yawn or cough or sneeze.

( And when we yawn or cough we cover our mouths. )
* *
Waiting for other people to finish talking before we start.
* *
Letting ladies and girls be “first”.
* *
Helping very old and very young people as much as we can, and being quiet and gentle
when we are them.
* *
Eating quietly without sprawling and grabbing or quarreling at the table. Asking to be excused when we have finished eating and are ready to leave.
* *
Being quiet and orderly when we go to places where there are a lot of other people – like libraries, movies or museums, theatres or classrooms, or in trains, street cars or busses.
* *
By never acting as though we were the only people in the world who counted, and never acting fresh and showing off to make people believe that we think we are better than they are.


“ I
can’t always be right
no matter who I am”
is a good thing for all
of us to remember.


Others people have ideas and thoughts
ways to do things
ways to work
ways to play
ways they think of GOD
and their country
and their race.
Their way can be just as right
as your way.
Remember that, and be glad you
have a chance to choose
the best of all ways.

Sailing
Together in a boat is a lot like learning to live with other people and be happy.


We learn to obey and
after a while we
learn to command
and help to make
the world a
better place
for all of us.

End
of the book is
what this is,
and if
YOU
Learned
to be

HONEST * FAIR * STRONG * WISE

Then you have learned

HOW TO BEHAVE AND WHY

Saturday, February 11, 2006

How To Behave and Why - Chapter STRONG


YOU HAVE TO BE STRONG

Some
People think that being strong
is just a matter of having muscle like a gorilla.
But they are wrong.


That alone never made anybody happy.
Real strength comes from having a clean,

healthy mind and a clean, healthy body.

Think

it out for yourself.
All the power of sixty gorillas won’t do you any good

if you use it stupidly,
and if you don’t stay healthy
you might as well be a run down.

Any brave man or woman
can tell you that having a clean healthy mind comes

from taking the time to think what is right
and then doing it no matter how scared you are or
when it would be easier to do wrong or even

if somebody else tries to talk you into it.

Regular
habits are the answer to the question :
How can we grow from a weak baby to a strong

and healthy man or woman ?
Eating the right food when we should.

Keeping clean
Playing and exercising
Sitting and standing right and
Getting the right amount of sleep and rest are
HOW TO GET GROW WELL AND STRONG


Of
Course you can argue


With people who know better than you, but it’s stupid.
Doctors and scientists study and learn what is the best way to keep ourselves healthy.

Our fathers and mothers learn from them and tell us.

They know a lot more than we do,

and if we are bright, we do what they tell us to.

Now
Is the best time
to start doing what you are told to do

for you own good health.

You can ask your parents to tell you
WHY
They want you to obey,
BUT


Don’t Nag
and
Whine
and
Grumble
and
Cry

every time you just don’t want to do what is right.

Grown ups
aren’t some kinds
of weird monsters


that have fun
making us do things
we don’t want to do.
They just know a
Whole lot more than we do
Because they have been here longer.


Listen
to what they tell you
and you will be surprised how right
they usually are.
We all are different in many ways,


But
we are all alike in many ways too.
If we are
HONEST
and
FAIR
and
STRONG
We won’t find it hard to be wise.